Tongue Tie & Lip Tie, Perlukah Dipotong?

Posted on Jun 1 2015 - 7:14pm by Anton Kasep

Tongue Tie & Lip Tie, Perlukah Dipotong

Salah satu kondisi yang sering ditemukan pada bayi dan balita adalah tongue tie dan lip tie dimana adanya kelainan bawaan pada pita lidah yang menghubungkan antara dasar lidah dengan ujung lidah bagian bawah. Mereka yang mengalami tongue tie memiliki dasar lidah yang melekat pada dasar mulut melalui tali lidah yang tebal, kencang dan pendek sehingga gerakan lidah cenderung sangat terbatas.

Dalam dunia kesehatan dikenal ada 4 macam tipe tongue tie ini yaitu:

  • Tipe 1 dimana pita lidah menempel hingga bawah ujung lidah
  • Tipe 2 dimana pita lidah menempel 2 hingga 4 mm di bawah ujung lidah
  • Tipe 3 dimana pita lidah menempel ditengah lidah dengan kondisi kencang dan kurang elastis
  • Tipe 4 dimana pita lidah menempel di pangkal lidah dengan kondisi tebal dan tidak elastis

Penderita tongue tie pada umumnya tidak mengalami masalah apapun, terutama saat menyusui, namun pada beberapa kasus, kondisi ini bisa menyebabkan masalah menyusui. Gejala yang umum ditemukan adalah kondisi bayi yang rewel setelah menyusui, bayi kesulitan mempertahankan hisapan saat menyusi, adanya masalah perlekatan yang bisa menjadi penyebab kurangnya kenaikan berat badan bayi. Selain itu, sang ibu juga sering mengalami masalah seperti rasa nyeri pada payudara.

Pada umumnya, para penderita tongue tie harus melalui proses pembedahan atau proses pemotongan kecil pada pita lidah. Namun, tindakan pemotongan ini tidak harus selalu dilakukan. Pada bayi dengan tongue tie yang tidak mengalami masalah dalam menyusui, maka bisa dilakukan proses observasi untuk melihat perkembangan lebih lanjut. Ada kalanya pula, masalah menyusui yang terjadi pada bayi dengan tongue tie juga bisa diatasi dengan melakukan upaya perbaikan posisi perlekatan selama menyusui.

Bila memang harus dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan bedah yang dilakukan tergolong sangat ringan, yaitu dengan cara membebaskan tali jaringan pita ikat itu sendiri baik sebagian atau keseluruhan. Tindakan ini pada umumnya dilakukan setelah upaya terapi non bedah berupa perbaikan proses menyusui tidak memberikan hasil dan juga saat kondisi ini mempengaruhi artikulasi kata-kata sang anak.

Comments

Leave A Response